Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2025

PRINSIP PENGAJARAN DAN ASESMEN MERANCANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

               JURNAL PEMBELAJARANKU – PRINSIP PENGAJARAN DAN ASESMEN

MERANCANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI



AKSI NYATA : MERANCANG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

1.      Ide baru apa yang Bapak/Ibu guru peroleh setelah belajar topik ini?

Setelah saya mempelajari topik ini, saya mendapatkan ide untuk menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam menyampaikan materi di kelas. Saya akan mencoba alternatif pembelajaran berdiferensiasi, modifikasi proses, modifikasi produk dan modifikasi konten.

 

2.      Menurut Bapak/Ibu guru, pembelajaran berdiferensiasi seperti apa yang relevan untuk dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu guru? Kembangkan rencana pembelajaran modul ajar yang berorientasi pada pembelajaran berdiferensiasi.

 

Peserta didik di UPTD SPF Negeri 3 Simpan Kanan, Aceh Singkil, Aceh. memiliki karakter dan gaya belajar yang beragam, ada yang suka dengan membaca dan menghafall, ada yang suka dengan mendengar (audio), menonton (visual), ada yang suka dengan memeraga secara langsung. Oleh karena itu, untuk mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik, saya akan mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi Konten.

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Setiap peserta didik memiliki keunikan, keistimewaan yang beragam. Peserta didik juga memiliki karakter dan kebutuhan yang bermacam-macam. Oleh karena itu guru di tuntut harus bisa mengenali, memahami, mengetahui setiap kebutuhan individual peserta didik untuk dapat menerapkan strategi belajar yang cocok bagi proses perkembangan belajar yang terbaik dan bermakna kepada peserta didik. Dengan demikian, maka diperlukan pemahaman secara menyeluruh mengenai pembelajaran berdiferensiasi guna memaksimalkan potensi belajar Peserta didik.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah teknik instruksional atau pembelajaran di mana guru menggunakan berbagai metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan individual setiap Peserta didik sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan tersebut dapat berupa pengetahuan yang ada, gaya belajar, minat, dan pemahaman terhadap mata pelajaran.

Pada hakikatnya, pembelajaran berdiferensiasi mengakomodasi guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik pada level yang setara dengan level pengetahuan mereka, untuk itu pembelajaran berdiferensiasi memiliki tujuan untuk meneyesuaikan kesetaraan dan memperbaiki kesenjangan belajar antara yang berprestasi dengan tidak berprestasi.

Harus dapat dipahami, tidak semua Peserta didik memiliki kompetensi pengetahuan yang baik pada suatu materi belajat tertentu dan juga sebaliknya. Namun pada dasarnya Peserta didik memiliki kompetensi pemahaman dan pengetahuan yang heterogen. Ada yang suka dengan membaca untuk mengetahui secara utuh, ada yang suka mendengarkan (audio), ada yang sukanya melihat (menonton Video), ada yang lebih memilih kolaborasi dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Ada pula yang hobinya belajar secara mandiri. Yang artinya perbedaan tersebut harus bisa disikapi oleh guru dengan menampilkan diferensiasi konten dengan berbagai pendekatan, strategi serta metode pembelajaran yang dapat memastikan semua materi belajar telah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kompetensi yang berbeda-beda. Dengan harapan peserta didik mencapai tujuan pelajaran dan memiliki pengalaman yang lebih berkesan dan bermakna.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebutuhan belajar peserta didik, Pertama Pengetahuan, kedua Keterampilan, dan yang ketiga Ketertarikan (minat / antusiasme). Namun ada empat faktor yang mempengaruhi dalam meningkatkan pembelajaran yang berbeda, pertama Konten, kedua proses, ketiga produk. Pastinya tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh setiap peserta didik adalah sama, meskipun metode, bahan ajar, media, asesmen berbeda-beda.

Seperti yang sudah kita bahas diatas, ada empat faktor atau alternative dalam pembelajaran berdiferensiasi.

1.      Konten

Konten merujuk pada materi atau topik pembelajaran yang akan diajarkan, ini tejadi karena tingkat kompetensi peserta didik yang beragam. Ada sebagian peserta didik tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman sebelumnya tentang topik pembelajaran tersebut. Dan sebagian lainya ada yang hanya sekedar tau, dan ada pula yang sudah menguasai topik tersebut

Kemudian, peserta didik memiliki cara belajar yang bermacam-macam, ada yang lebih mudah memahami pembelajaran dengan visual, ada yang audio, ada yang dengan berpartisipan secara langsung (kinesteti). Oleh karena pemahaman akan perbedaan kebutuhan tersebut, akan sangat membantu guru untuk mengembangkan konten pembelajaran, bahan pembelajaran dan media pembelajaran yang dapat mengakomodasi setiap peserta didik dalam belajar.

2.      Proses

Hal ini tentang bagaimana cara guru memberikan arahan yang tepat kepada setiap peserta didik dalam proses pembelajaran. memahami kebutuhan setiap Peserta didik di awal pembelajaran, tentu akan sangat membantu seorang guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang berbeda dan membantu para Peserta didik untuk dapat belajar secara efektif dan menyenangkan.

3.      Produk

Aspek ini melibatkan metode yang digunakan oleh guru dalam mengetahui tingkat penguasaan materi atau bahan ajar dari setiap Peserta didik. Untuk mengetahui penguasaan materi itu, seorang guru dapat melakukannya dengan cara melakukan tes, meminta Peserta didik untuk menuliskan laporan tentang topik-topik berdasarkan materi pelajaran, dan lain-lain.

Manfaat dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi sangatlah banyak diantaranya, yaitu:

1.      Dapat mengakomodir dan menjangkau serta mempengaruhi setiap tingkatan kompetensi yang beraneka ragam dalam diri peserta didik. Sehingga meningkatkan minat peserta didik dalam prose pembelajaran.

2.      Pembelajaran yang menyenangkan, karena setiap pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat istimewa yang dimiliki oleh setiap peserta didik

3.      Pembelajaran yang berfocus pada peserta didik, guru hanya menggali potensi peserta didik dan mendorong serta meningkatkan pengetahuan, minat dan bakat unik peserta didik.

Tantanga dalam setiap proses pembalajaran pasti ada, tanpa terkecuali pembelajaran berdiferensiasi. Tantanganya adalah:

1.      Alokasi waktu yang kadang tidak mencukupi, karena proses pembelajaran yang sangat menyenangkan.

2.      Banyak sekali langkah-langkah yang harus dilakukukan oleh guru untuk mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi sehingga menguras tenaga, pikiran, waktu.

3.      Besarnya dana yang harus di keluarkan mengingat banyak sekali sumber belajar yang harus diakses, media pembelajaran yang bermacam jenis, dll.

Kesimpulanya

Kenali dan pahami setiap peserta didik dengan segala macam keistimewaannya. Berikanlah mereka pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan mereka, agar setiap potensi, kreatifitas dan inovasi dalam diri setiap peserta didik berkembang sepanjang hayatnya.

 

MODUL AJAR
BAHASA ARAB
 

INFORMASI UMUM



I.       IDENTITAS MODUL

 

Nama Guru                                  

Satuan Pendidikan                        : UPTD SPF SMP Negeri 3 Simpang Kanan

Kelas / Fase                                   : VII (tujuh) / D

Mata Pelajaran                              : Bahasa Arab

Materi                                            : Ta’aruf (perkenalan)

Prediksi Alokasi Waktu                : 2 X 40 Menit

Semester                                        : Ganjil

Tahun Pelajaran                             : 2024 / 2025

 

II.    KOMPETENSI AWAL

Mengajak Peserta didik untuk mempu menghafal kosa kata bahasa arab yang terkait dengan Ta’aruf. Kemudian Peserta didik diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan di dalam memahami fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan (bunyi, kata, makna dan gramatikal) dari teks sederhana yang berkaitan dengan tema Ta’aruf.

III. PROFIL PELAJAR PANCASILA

Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia

 

IV. SARANA DAN PRASARANA

1.      Buku Teks                                           4. Handout materi

2.      Laptop/Komputer PC/HP                   5. Akses Internet

3.      Papan tulis/White Board                     6. LKPD

4.      Infokus/Proyektor/Pointer                  8. Referensi lain yang mendukung

 

V.    TARGET PESERTA DIDIK

1.      Peserta didik regular

 

VI. MODEL PEMBELAJARAN

1.      Cooveratif Learning

2.      Community Language Learning

3.      Audiolingual

 

KOMPONEN INTI

I.       TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu menjelaskan fungsi social, struktur teks dan unsur kebahasaan (bunyi, kata, makna dan gramatikal) dari teks sederhana yang berkaitan dengan tema ta’ruf.

Peserta didik mampu memperaktekkan memperkenalkan diri dan orang lain dengan menggunakan kata tanya (hal, min aina)

 

II.    PEMAHAMAN BERMAKNA

Memahami fungsi social, struktur teks dan unsure kebahasaan (bunyi, kata, makna dan gramatikal) dari teks sederhana yang berkaitan dengan ta’aruf.

 

III. PERTANYAAN PEMANTIK

1.    Bagaimana cara kalian berkenalan dengan menggunakan bahasa arab yang benar?

2.    Mengapa tindak turur saat berkenalan dengan orang baru sangat penting?

3.    Guru menanyakan kepada peserta didik seputar materi ta’aruf dengan menggunakan kata Tanya (hal, min aina)

 

IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan

Kegiatan

Konten Pembelajaran

1

Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

1.      Guru memberikan salam pada Peserta didik.

2.      Peserta didik berdoa sebelum pembelajaran dimulai.

3.      Guru mengecek kehadiran Peserta didik.

4.      Guru memberi motivasi siswa untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila

5.      Guru mengaitkan motivasi dengan topic perkenalan.

6.      Guru dan Peserta didik menyepakati keyakinan kelas.

7.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

Kegiatan Inti (60 Menit)

Pembelajaran Diferensiasi (Konten)

Guru menstimulasi Peserta didik dengan menampilkan gambar dan suara pada LCD proyektor tentang cara berkenalan secara sederhana untuk memudahkan pemahaman peserta didik,

 

1.      Peserta didik menyimak video tentang berkenalan

https://www.youtube.com/watch?v=Kd7rkdlVuuk

https://www.youtube.com/watch?v=wOZn0ir1FkA

https://www.youtube.com/watch?v=rxPWRIz6t1Y

https://www.youtube.com/watch?v=KLuuxcmeIec

https://www.youtube.com/watch?v=23dQ_aNETHg

 

2.   Peserta didik mengamati percakapan melalui poster/gambar di

https://www.gurusiana.id/read/dedierusmiadie/article/komik-perkenalan-bahasa-arab-1702467 https://moreinme.blogspot.com/2013/03/tips-mudah-nak kuasai-bahasa-arab.html

 

3.   Peserta didik membaca artikel tentang percakapan melalui 

https://online.flipbuilder.com/cflrj/nhmc/

https://annajmacademy.com/blog/sapaan-dan-perkenalan-dalam-bahasa-arab

 

4.   Peserta didik memberikan pendapat mereka tentang perkenalan dalam bahasa arab. Peserta didik yang lain diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapannya

 

5.   Peserta didik diminta mempraktikkan salah satu ungkapan yang telah dipelajari secara bergantian

 

6.   Peserta didik mendiskusikan kembali bagaimana pentingnya cara berkenalan dengan orang baru menggunakan bahasa arab yang baik.

 

Peserta Didik Aktif

7.   Guru membentuk kelompok belajar. Satu kelompok berisi minimal 4 peserta didik.

 

8.   Masing-masing kelompok diberikan tugas membuat video, gambar, dan artikel dan buatlah sekreatif mungkin.

 

9.   Setiap kelompok dibebaskan untuk memilih jenis tugas yang mereka senangi. Dengan tema Tugas berkaitan dengan percakapan perkenalan dalam bahasa arab.

 

10.  Guru memberikan waktu masing-masing kelompok untuk membuat dan menyelesaikannya

 

11.  Kelompok boleh menggunakan aplikasi (Canva/PPT/VideoMaker/dll) untuk membuat tugas.

 

12.  Hasil tugas yang telah dibuat ditampilkan di depan kelas. Kemudian, kompilasi jadi satu dan unggah ke media sosial masing-masing Peserta didik.

Kegiatan Penutup (10 Menit)

Peserta didik didampingi guru membuat kesimpulan atas pembelajaran hari ini

Peserta didik menyampaikan refleksi. Peserta didik secara subjektif menyatakan Apa Manfaat Bagi-Ku (AMBAK) terkait pembelajaran hari ini

 

Guru memberikan apresiasi kepada seluruh Peserta didik atas pembelajaran yang telah dilakukan

Peserta didik diberi kesempatan jika ada yang ingin berdiskusi/bertanya terkait “Ta’aruf” yang telah disampaikan pada Pertemuan selanjutnya

Peserta didik mempelajari “Profesi dalam bahasa arab”  di rumah untuk pembelajaran berikutnya

Peserta didik memimpin doa penutup

Guru membuat catatan Peserta didik dari aspek sikap dan pengetahuan selama proses pertemuan ini

 

 

REFLEKSI

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan rancangan pembelajaran yang sangat relevan untuk rancangan pembelajaran dikelas pada mata pelajaran Bahasa Arab. Dikarenakan peserta didik memiliki karakter dan gaya belajar yang beragam. Untuk itu penggunaan Pembelajaran Berdiferensiasi menjadi opsi yang cocok untuk saya terapkan dalam pembelajaran di kelas agar meningkatkan minat dan pengetahuan serta kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik.

 

Pembelajaran Berdifirensiasi juga dapat kita modifikasi menjadi tiga alternatif, konten, proses dan produk. Dengan menggunakan tiga opsi alternative tersebut, saya dapat menyesuaikan tujuan pembelajaran, konten pembelajaran, ragam aktivitas pembelajaran, produk akhir peserta didik sesuai denga  kebutuhan, minat dan kemampuan serta gaya belajar peserta didik.

 

Penerapannya, guru bisa menggunakan jenis alternative yang sesuai kenutuhan peserta didik. Dalam hal ini saya memilih alternative konten sebagai pembelajaran yang akan memenuhi kebutuhan peserta didik saya. Dengan memberika materi dalam bentuk konten pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan pemahaman peserta didik saya berharap setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Jumat, 01 Maret 2013

Teknik-Teknik Evaluasi Pembelajaran


oleh : Fitrial Izhaman
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam mengevaluasi pengajaran seorang guru harus mengetahui cara, teknik atau metode-metode dalam mengevaluasi pengajaran agar evaluasi yang kita lakukan bisa mencapai segala aspek pengajaran. Dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini masih banyak kekurangan yang kita temui, kadang kekurang itu bukan hadir dari keputusan awal semata. Akan tetapi juga muncul di sebabkan salahnya kita dalam mengevaluasi suatu pengajaran di indonesisa, jikalau semua guru mengetahui cara atau teknik mengevaluasi suatu hasil pembelajaran maka dengan sedianya keputusanpun dengan mudah kita ambil dan sesuai dengan apa yang kita harapkan nantinya.

Dalam dunia pendidikan manapun dan tingkat apapun, evaluasi adalah salah satu komponen paling penting, karena dengan adanya evaluasi kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan pengajaran suatu lembaga, sehingga lembaga tersebut akan memperbaiki semua kekurangan yang telah dilakukan dalam pembelajaran sebelumnya, dan nantinya pembelajaran akan lebih baik.

Sebelum kita melanjutkan lebih jauh, kita terlebih dahulu memahami dan mengetahui definisi dari evaluasi, ada beberapa pengertian dari evaluasi, salah satunya adalah proses pengumpulan data untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran dan aspek-aspeknya sudah tercapai atau belum, sehingga keputusan relevan dapat di ambil.

Alat-alat evaluasi hanya tersedia dua porsi yaitu, teknik tes dan non-tes. Untuk mengetahui lebih lanjut maka saya akan melampirkan atau akan membahasnya pada bab selanjutnya, sehingga kita dapat memahami pokok pembahasanya dengan lebih terperinci.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Istilah teknik sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari, “teknik-teknik” dapat kita artikan dengan “alat-alat” jika kita kaji lebih dalam, maka arti dari istilah teknik disini adalah cara-cara atau metode-metode. Jadi dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwasanya “teknik evalusi pengajaran” adalah alat-alat dan cara-cara yang digunakan dalam proses pengumpulan data tentang hasil pembelajaran.

Dalam evaluasi terdapat dua teknik, teknik tes dan teknik non-tes. Istilah tes di ambil dari kata testum dalam bahasa prancis kuno yang mengandung arti piring untuk penyulingan logam-logam mulia seperti emas, perak, perunggu. Akan tetapi ada juga yang mengartikan bahwa testum adalah sebuah piring yang terbuat dari tanah.

tes memiliki banyak istilah yang memerlukan penjelasannya, yaitu istilah test, testing, tester dan testee, yang mana setiap istilah mempunyai pengertian yang berbeda. Test adalah alat untuk mengukur dan menilai suatu objek. Testing adalah waktu berlangsungnya pengukuran dan penilaian. Tester adalah orang yang melakukan pengukuran dan penilaian, dan testee adalang objek pengukuran dan penilaian atau orang yang diukur dan dinilai.

Dari pengertian dan penjelasan tes di atas maka kita dapat pahami bahwa tes adalah alat yang digunakan dalam penilaian dan penseleksian serta pengukuran terhadap objek yang telah ditentukan. Jika kita mengkaji dalam segi pendidikan maka tes merupakan alat yang digunakan dalam rangka menilai dan mengukur sejauh mana pendidikan dan seberapa besar kesuksesan yang telah dicapai selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga dengan demikian kita dapat menentukan kebijakan yang harus dilakukan kedepannya.

B. Fungsi Tes
Dalam garis besar, ada dua macam fungsi yand dimiliki oleh tes, yaitu:
1. Tes sebagai alat pengukur atau penilai terhadap peserta didik. Dalam hal ini tes berfungsi mengukur dan menilai besarnya perkembangan yang terjadi pada siswa didik setelah berlangsungnya proses pembelajaran.
2. Tes sebagai alat mengukur dan menilai keberhasilan program pembelajaran atau kurikulum, oleh karana adanya tes, maka kita dapat mengetahui seberapa jauh ketercapaian program pembelajaran yang telah ditentukan.
3. Tes sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran, sehingga dengan mudah kita mengetahui pencapaian kompetensi.

C. Prosedur Melaksanakan Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Dalam evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan (mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi, teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana, penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb).
2. Pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan).
3. Verifiksi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb).
4. Pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS ).
5. penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.

D. Teknik-Teknik Evaluasi Pengajaran
Dalam evaluasi secara garis besar, mempunyai dua macam teknik evaluasi, yaitu: teknik tes dan teknik non tes.

1. Teknik Tes
Sebagai alat pengukur dan penilai, tes ada beberapa macam model menurut pemakain dan waktu atau kapan digunakannya tes tersebut Model-model tes tersebut, yaitu: a. Tes Seleksi, b. Tes Awal, c. Tes Akhir, d. Tes Diagnostik, e. Tes Formatif, f. Tes Sumatif.
a. Tes Seleksi
Tes seleksi ini tak jarang lagi kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Tes ini juga bisa kita sebut, tes penyaringan bagi calon siswa tahun ajaran baru yang ingin memasuki suatu lembaga sekolah. Materi tes yang digunakan dalam tes ini hanyalah materi prasyarat untuk mengikuti atau melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Misalnya seorang siswa akan melanjutkan studinya di perguruan tinggi IAIN di prodi bahasa arab, maka siswa tersebut akan di beri ujian atau tes seleksi yang soalnya mengenai bahasa arab. Apabila nilai yang didapatkannya memenuhi syarat dan nilainya tinggi maka siswa tersebut dapat melanjutkan studinya di IAIN. Tes ini bisa juga kita laksanakan secara lisan, secara tulis dan secara perbuatan.

b. Tes Awal
Tes ini juga sering kita dengar dengan istilah pre-test. Tes ini digunakan pada saat akan berlangsungnya penyempaian materi yang akan di ajarkan oleh guru kepada siswa dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan yang akan di ajarkan telah dapat di kuasai oleh siswa didik. Tes ini mengandung makna, yaitu: tes yang dilaksankan sebelum berlangsungnya proses pembelajaran terjadi. Materi tes yang di berikan harus berkenaan dengan materi yang akan diajarkan dan soalnya mudah-mudah akan tetapi memenuhi pokok pembahasan yang seharusnya materi tersebut telah dikuasai oleh siswa. Contoh soal tentang huruf jarr yang di tanyakan pada mahasiswa bahasa arab semester lima. Dengan catatan apa bila semua soal tes awal dapat dijawab atau dikuasai dengan baik dan benar, maka materi tes yang ditanyakan tidak akan diajarkan lagi, dan apabila materi tes yang ditanya belum cukup dipahami siswa, maka guru hanya mengajarkan materi yang belum dipahami. Tes ini dapat dilaksanakan dan dilakukan dengan tes lisan dan tulisan.

c. Tes Akhir
Tes ini lebih banyak diketahui dengan post-test. tes ini dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran suatu materi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi dan pokok penting materi yang dipelajari. Materi tes ini barkaitan dengan materi yang telah diajarkan kepada siswa sebelumnya, terutama materi tentang sub-sub penting pelajaran. Naskah tes akhir sama dengan tes awal supaya guru kita dapat mengetahui mana lebih baik hasil kedua tes tentang pemahaman siswa. Apabila siswa lebih memahami suatu materi setelah proses pembelajaran maka, program pengajaran dinilai berhasil.

d. Tes Diagnostik
Tes ini adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga dengan mengetahui kelemahan siswa tersebut, maka kita bisa memperlakukan siswa tersebut dengan tepat. Materi tes yang ditanya dalam tes diagnostik biasanya mengenai hal-hal tertentu yang juga merupakan pengalaman sulit bagi siswa. Tes ini dapat dilaksanakan dengan cara lisan, tulisan, atau dengan mengkaloborasi kedua cara tes. dalam catatan, tes ini hanya untuk memeriksa, jika hasil pemeriksaan tersebut membuktikan kelemahan daya serap siswa maka terhadap suatu pembelajaran. Maka siswa tersebut akan dilakukan pembimbingan secara khusus kepadanya.

e. Tes Formatif
Tes ini merupakan tes hasil belajar yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai pelajaran setelah mengikuti proses pembelajaran dlam jangka wakt yang telah ditentukan, tes ini dilaksanakan biasanya di tengah-tengah perjalanan program pembelajaran. Tes ini juga disebut dengan “ujian harian”. Materi tes ini adalah materi yang telah di sampaikan kepada siswa sebelumnya. Soalnya bisa dalam tingkat mudah maupun sulit. Dalam tes ini, jika siswa telah menguasai materi yang telah diajarkan dengan baik, maka guru akan menyampaikan materi selanjutnya. Dan apabila materi belum dapat dikuasai secara menyeluruh, maka guru harus mengajarkan bagian materi yang belum dipahami.

f. Tes Sumatif
Tes ini tidak asing bagi siswa, karena tes ini adalah tes akhir dari program pembelajaran. Tes ini juga bisa disebut EBTA, tes akhir semestes, UAN. Tes ini dilaksanaka pada akhir program pembelajaran. Seperti setiap akhir semester, akhir tahun. Materinya yang di tes adalah materi yang telah diajar kan selama satu semester. Dengan demikian materi ini lebih banyak dari materi te yang ada pada tes formatif. Tes ini biasanya dilakukan dengan cara tulisan, dan biasanya siswa memperoleh soal yang sama satu sama lain. Tes ini memiliki tingkat tes yang sukar atau lebih berat dari tes formatif. Dengan ada tes ini maka kita bisa menentukan peringkat atau rangking siswa selama program pembelajaran, dan juga tes ini menentukan kelayakan seorang siswa untuk mengikuti program pembelajaran selanjutnya.

2. Teknik Non-Tes
Non tes adalah alat mengevaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai aspek tingkah laku termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa non-tes sebagai alat evaluasi, diantaranya: a. skala bertingkat, b. kuesioner, c. daftar cocok, d. wawancara, e. pengamatan, f. riwayat hidup.

a. Skala Bertingkat
Skala bertingkat menggambarkan suatu nilai yang berwujud angka terhadap suatu hasil penentuan. Kita dapat menilai hampir segala aspek dengan skala. Dengan maksud agar pencatatannya objektif, maka penilaian terhadap penampilan atau pengambaran kepribadian seseorang disiapkan dalam bentuk skala.

b. Kuesioner
Kuesioner juga dapat di artikan angket yang digunakan sebagai alat bantu dalam rangka pengukuran dan penilaian hasil belajar. Dengan adanya angket yang harus diisi oleh siswa maka guru akan mengetahui keadaan, pengalaman, pengetahuan dan tingkah. Angket atau soal kuesioner dapat di berikan secara langsung dan dijawab atau diisi langsung oleh objeknya, ini dikatakan kuesioner langsung. Dan jika angket atau soal kuesioner dikirim dan diisi oleh orang lain ( sanak saudaranya), namun soalnya dituju untuk objek, ini disebut kuesioner tidak langsung. Dengan cara tes ini lebih menghemat waktu dan tenaga.

c. Daftar Cocok
Daftar cocok adalah deretan pertanyaan yang singkat serta mudah dipahami oleh penjawabnya dengan cara menconteng saja,Contoh:
Berikanlah tanda conteng pada kolom yang sesui dengan pendapatnya.
Pendapat
pernyataan penting biasa Tidak penting
1. Rajin belajar
2. Suka membaca
3. Sering bolos
4. Cepat memahami

d. Wawancara
Wawancara juga disebut dengan interview, secara umum adalah proses pengumpulan keterangan yang dilakukang dengan tanya jawab lisan sepihak, bertatap muka langsung, dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Wawancara dapat dibedakan dengan dua jenis: 1. wawancara terpimpin,yang materi pertanyaannya telah terstruktur dengan tujuannya 2. wawacara bebas, yang materi yang ditanyakan bebas tidak terstruktur akan tetapi mempunyai tujuan. Objeknya bisa pada siswa langsung atau orang tuanya.

e. Pengamatan
Pengamatan atau observasi adalah sebuah cara menghimpun data yang dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya dengan cara pengamatan yang teliti dan mencatat hasil pengamatan secara sistematis. Observasi atau pengamatan dapat dibedakan menjadi 3 bentuk: 1. Pengamatan partisipan adalah pengamatan yang pengamatnya langsung memasuki dan mengikuti kegiatan yang sedang diamati. Seperti pengamatan tentang pertanian, maka pengamat harus bergabung menjadi petani. 2. Pengamatan sistematik adalah observasi dimana faktor yang diamati sudah didaftar secara sistematis, dan sudah diatur menurut kata gorinya. Pengamatan ini dilakukan di luar dari kelompok yang ingin diamati. 3. Pengamatan eksperimental akan terjadi jika pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok. Dalam hal ini ia dapat mengendalikan unsure-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi dapat diatur sesuai dengan tujuan evaluasi.

f. Riwayat hidup
Riwayat hidup juga bisa kita katakan curiculum vite (CV). Atau gambaran hidup peserta didik, dalam segala aspek. Dengan mengkaji atau menganalisis dukumen atau riwayat hidupnya maka seorang guru akan dapat menarik kesimpulan tentang tingkah laku atau kepribadian dan sikap dari peserta didik. Soal-soal yang biasa digunakan seperti. Nama siswa, status dalam keluarga, agama yang dianut, prestasinya dll.

E. Ciri-Ciri Tes yang Baik
Tes akan dikatakan baik sebagai alat pengukur apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Validitas
Maksud dari validitas adalah apa bila tes tersebut sesuai dengan materi pembelajaran. Kata lainnya adalah nilai tes tersebut tepat atau mempunyai nilai ketepatan jawabanya. Contoh: untuk mengukur pertisipasi siswa terhadap proses pembelajaran dapat dilahat melaluai kehadiran, terpusatnya perhatian siswa pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti yang relevan pada permasalahan.

2. Realibilitas
Maksud dari reabilitas tes adalah apa bila tes tersebut dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Dengan kata lain, jika diberikan kepada siswa tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka siswa akan tetap berada dalam urutan atau tingkatan yang sama dalam kelompoknya.

3. Objektivitas
Maksud dari objektivitas tes adalah tidak adanya unsur pribadi antara guru dengan peserta didik baik dalam aspek membuat soal maupun dalam skoringnya.

4. Praktis dan Ekonomis
Istilah ini telah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tes yang dimaksud dengan praktis dan ekonomis adalah sebuah tes tidak boros waktu ataupun biaya, sehingga mudah diikuti oleh semua murid.


BAB III
KESIMPULAN

A. Pengertian
Istilah teknik sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari, “teknik-teknik” dapat kita artikan dengan “alat-alat” jika kita kaji lebih dalam, maka arti dari istilah teknik disini adalah cara-cara atau metode-metode. Jadi dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwasanya “teknik evalusi pengajaran” adalah alat-alat dan cara-cara yang digunakan dalam proses pengumpulan data tentang hasil pembelajaran

B. Tenik-Teknik Evaluasi Pengajaran
Dalam evaluasi secara garis besar, mempunyai dua macam teknik evaluasi, yaitu: teknik tes dan teknik non tes.
1. Teknik Tes
Sebagai alat pengukur dan penilai, tes ada beberapa macam model menurut pemakain dan waktu atau kapan digunakannya tes tersebu. Model-model tes tersebut, yaitu: a. Tes Seleksi, b. Tes Awal, c. Tes Akhir, d. Tes Diagnostik, e. Tes Formatif, f. Tes Sumatif.
2. Teknik Non-Tes
Non tes adalah alat mengevaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai aspek tingkah laku termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa non-tes sebagai alat evaluasi, diantaranya: a. skala bertingkat, b. kuesioner, c. daftar cocok, d. wawancara, e. pengamatan, f. riwayat hidup.

C. Ciri-Ciri Tes yang Baik
Tes yang baeik apabila mengandung 4 aspek, yaitu: veliditas, realibilitas, objektivitas, praktis dan ekonomis.


DAFTAR PUSTAKA


Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.

Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2007.

Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT bumi Aksara, 2009.

Wina Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi KBK, Jakarta: PT kencana Prenada Media Group, 2008.
http://www.ikatanserjanateknologipendidikan.com, diakses 15 januari 2011.

semoga bermanfaat