Monday, January 6, 2014

makalah sepak takraw

Posted by fitrial izhaman On 11:40 PM | No comments
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.Karena atas karunia-Nyalah,kami masih dapat berkreasi untuk menghasilkan sebuah karya seni berupa makalah yang berjudul Sepak Takrow.

Makalah ini disusun sebagai sarana untuk mengetahui masalah Sepak Takrow.Selain itu,makalah ini juga merupakan sarana untuk mengembangkan kemampuan,potensi,dan bakat yang ada pada diri masing-masing individu atau kelompok.

Kami berharap,ilmu yang kami tuangkan dalam makalah ini bermanfaat bagi seluruh individu maupun kelompok.Kami mengucapkan terimah kasih atas segala masukan dan saran untuk perbaikan makalah ini selanjutnya.

Penulis

( ikhsan )


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Olahraga sepak takraw adalah transformasi dari permainan yang dalam bahasa Melayu disebut Sepak Raga (raga = keranjang), disebut Takraw dalam bahasa Thai, di Filipina disebut Sipa, di Burma disebut Chinlone, di Laos disebut Kator. Catatan sejarah terawal tentang sepak raga terdapat dalam sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 - 1477). 

Pada permainan Sepak Raga para pemain berdiri membentuk lingkaran dan menggunakan bola yang terbuat dari rotan. Transformasi permainan ini terjaidi pada era 1940-an ketika permainan bola keranjang ini mulai menggunakan jaring dan peraturan angka, serta para pemain tidak lagi berdiri membentuk lingkaran tetapi dimainkan di lapangan ganda badminton.

Dan pada masa sekarang bola yang digunakan tidak lagi yang terbuat dari rotan tetapi yang terbuat dari fiber.
Kejuaraan paling bergengsi dalam cabang ini adalah King's Cup World Championships, yang diadakan di Bangkok, Thailand. (23rd King's Cup SepakTakraw World Championship 2008: August 25-30th).

B. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Perkembangan Sepak Takraw
2. Teknik Dasar
3. Permainan
4. Peraturan

C. Batasan Masalah
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Sepak takraw.

D. Metode Pembahasan
Dalam hal ini penulis menggunakan:
1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack: 1982).
2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Permainan Sepaktakraw
Sepaktakraw adalah permainan sepak raga yang telah dimodivikasi untuk dijadikan sebuah permianan yang kompetitif. Sepak raga sebagai dasar permainan sepaktakraw adalah olahraga permainan tradisional Indonesia dimainkan oleh 6 – 7 orang secara melingkar.

Pada periode 1945 – 1986 ada kecendrungan pada periode ini sepak raga lebih digairahkan beberapa propinsi di SULSEL dan beberapa daerah di Sumatra tetap terpelihara. Pada tahun 1970 datang rombongan pemain sepakrakraw dari Malaysia dan beberapa bulan kemudian datang dari Singapura memperkenalkan sepak raga jaring.

Pemerintah dalam hal ini Ditjen Olahraga yang dipimpin oleh Mayjen Supardi, mengembangkan sepaktakraw dengan cikal bakal sepak raga. Pada tanggal 16 Maret 1970 didirikan organisasi Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PERSERASI) dengan Ketua Umum Drs. Moh. Yunus Akbar, dan pada tangal 6-8 Oktober diadakan kongres I semacam munas yang dihadiri 24 PEMDA.

Pada periode tahun 1987 salah satu putusan Kongres I 1986 ialah pemilihan pengurus besar yang baru yaitu Ir. H. Marjoeni. Dengan hasil keputusan antara lain adalah dirubahnya sebutan “Sepak raga” menjadi “Sepaktakraw”.

Sejak berkembangnya media cetak dan elektronika, kegiatan olahraga sepaktakraw menjadi suatu perhatian yang serius. Kaum tua mulai mengenang kembali pola sepak raga yang pernah ditekuninya. Di beberapa kabupaten di Propinsi NTB mulai mencoba bermain sekalipun dengan peralatan yang sangat sederhana.

Memperhatikan kenyataan tersebut, Koni Propinsi NTB mengambil inisiatif dengan menyelenggarakan Penataran Pelatihan pada tanggal 22 April 1983 sampai tangal 2 Mei 1983 dengan peserta 20 orang dari jajaran Kanwil Depdikbud propinsi NTB, yaitu para guru olahraga dan tenaga keolahragaan fungsional.

Penanggung jawab kurikulum penataran tersebut adalah Drs. A Hamidsyah Nur dari Universitas 11 Maret Surakarta, dan sebagai penanggung jawab tekhnis persepak-takrawan baik teori maupun praktiknya adalah Drs. Alwi Cae dari Ujung Pandang (pelatih nasional team sepaktakraw Indonesia).

Penutupan penatara tersebut bertepatan dengan Hardiknas 1983, maka pada upacara tersebut secara simbolis ke 20 tenaga hasil penataran tersebut diserahkan kepada Kepala Kanwil Depdikcut Propinsi NTB guna dibina dan dikembangkan lebih lanjut.

Hasil penataran tersebut merupakan embrio penggerak untuk pembibitan. Selanjutnya dilaksanakan penataran. Pelatih untuk pulau Lombok bertempat di SKB Selong dan untuk pulau Sumbawa bertempat di SKB Alas dengan jumlah peserta masing-masing 23 orang. Dengan adanya pelatih tersebut ke 7 SKB di NTB dalam kegiatan rutinnya antara lain mencantumkan latihan pembina sepaktakraw guna diterapkan dalam program desa binaan.

Memperhatikan jumlah club baik club putra maupun club wanita serta persaingan yang ketat maka persepaktakrawan NTB mempunyai masa depan yang cukup cerah. Telbih lagi dengan adanya kelas olahraga di SMP di setiap Kabupaten se NTB, dengan sendirinya kurikulum olahraga sepaktakraw segera diterapkan.

B. Pengertian Sepaktakraw
Sepaktakraw berasal dari dua kata yaitu sepak dan takraw. “Sepak” berarti gerakan menyepak sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki di depan atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan “Takraw” berarti bola atau barang bulat yang terbuat dari anyaman rotan (Depdikbud, 1992). Jadi sepaktakraw adalah sepak raga yang telah dimodifikasikan untuk menjadikannya sebagai suatu permainan yang kompetitif. Sedangkan menurut ahli lain mengatakan sepaktakraw adalah menyepak bola dengan samping kaki, sisi kaki bagian dalam atau bagian luar kaki yang terdiri dari tiga orang pemain (Sanafiah, 1992).

C. Peraturan Permainan Sepaktakraw
1. Lapangan
- Lapangan Sepaktakraw seukuran dengan lapangan Badminton yaitu : 13,40 m x 6,10 m
• Sepaktakraw dapat dimainkan dalam gedung atau diluar gedung (apabila dimainkan didalam gedung maka tinggi loteng minimal 8 m dari lantai).
• Keempat isi lapangan ditandai dengan cet atau lakban yang lebarnya 4 cm, diukur dari pinggir sebelah luar.
. Areal bebas minimal 3 m dari garis luar lapangan bebas dari rintangan
• Centre cirle yaitu garis tengah dengan lebar 2 cm.
- Quarter circle yaitu garis seperempat lingkaran dipojok garis tengah radius 90 cm diikur dari garis sebelah dalam.
• The service circle adalah lingkaran service dengan radius 30 cm berada ditengah lapangan, jarak dari garis belakang 2,45 m dan jarak dari titik tengah garis lingkaran kegaris tengah (Centre Line) 4,25m, jarak titik tengah lingkaran adalah 3,05m dari kiri dan kanan garis pinggir lapangan.

2. Ukuran Tiang Net
• Putra: Tinggi net 1,55m dipinggir dan minimal 1,52 di bagian tengah.
• Putri: Tinggi net 1,45m dipinggir dan minimal 1,42 di bagian tengah.
• Kedudukan tiang 30cm diluar garis pinggir

3. Jaring atau Net
• Net terbuat dari tali atau benang kuat atau nilon, dimana tiap lubangnya lebar 6 – 8 cm.
• Lebar net 70 cm dengan panjang 6,10 m.

4. BolaTakraw
Terbuat dari plastik dimana awalnya adalah terbuat dari rotan, dengan ukuran :
• Lingkaran 42-44 cm untuk putra dan 43-45 cm untuk putri.
• Berat adalah 170-180 gr untuk putra dan 150-160 untuk putri.

5. Pemain-pemain
• Permainan ini dimainkan oleh 2 (dua) “Regu” masing-masing regu terdiri dari 3 (tiga) orang pemain dan disetiap regu dilengkapi oleh 1 (satu) orang pemain cadangan.
• 1 (satu) dari tiga pemain diposisi belakang disebut back atau “Tekong” sebagai penyepak mula untuk memulai permainan.
• Dua orang berada didepan yang berada pada sebelah kiri tekong disebut “Apit kiri” dan yang berada pada sebelah kanan tekong disebut “Apit kanan”.

6. Kesalahan-kesalahan
a. Kesalahan Pihak Penyepak Bola
• Apabila sebagai pelambung masih memainkan bola, melemparkan bola pada teman sendiri, memantulkan, melempar dan menangkap lagi setelah wasit menyebut posisi angka.
• Apabila mengangkat kaki, menginjak garis, menyentuh atau melewati garis bawah net ketika melakukan lambung bola.
• Tekong melompat saat melakukan service, kaki tumpuan tidak berada dalam lingkaran atau menginjank garis lingkaran servis.
• Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya.
- Bola menyetuh salah seorang pemain sendiri sebelum bola melewati net.
• Bola jatuh diluar lapangan.
• Bola tidak melewati net.
b. Kesalahan Pihak Penerima Service
Berusaha mengalihkan perhatian lawan seperti : (isyarat tangan, menggertak, bersuara keras atau membuat keributan).
c. Kesalahan kedua Pihak
• Ada pemain yang mengambil bola dilapangan lawan.
• Menginjak dan melewati satu telapak kaki garis tengah.
• Ada pemain yang melewati lapangan lawan, walaupun diatas atau dibawah net kecuali pada saat ”The Follow Trugh Ball”
• Memainkan bola lebih dari tiga kali.
• Bola mengenai tangan.
• Menahan atau menjepit bola antara lengan dan badan atau antara dua kaki dengan bola.
• Bola mengenai loteng atau pembetas lainnya.

7. Sistem perhitungan angka
• Apabila penerima servis melakukan ksesalahan otomatis akan memperoleh angka sekaligus melakukan sepak mula lagi bagi penyepak mula.
• Angka kemenangan setiap set maksimum 21 angka, kecuali pada saat posisi angka 20-20, pemenang akan ditentukan pada saat selisih dua angka sampai batas akhir 25 poin, ketika 20-20 wasit utama menyerukan batas angka 25 poin.
• Memberikan kesempatan istirahat 2 menit masing-masing pada akhir set pertama atau kedua termasuk Tie Break.
• Apabila masing-masing regu memnangkan satu set, maka pemain akan dilanjutkan dengan set “Tie Break” dengan 15 poin kecuali pada posis 14-14, pemenang akan ditentukan pada selisih dua angka sampai batas akhirnya angka 17.
• Sistem perhitungan angka menggunakan Relly Poin
• Pergantian pemain
 Setiap “Regu” hanya dapat melakukan 1 (satu) kali pergantian pemain dalam satu pertandingan.
 Pergantian pemain diperbolehkan setiap saat ketika bola mati melalui tim menejer atau pelatih yang disetujui oleh official atau petugas pertandingan.
 Setiap regu dapat menominasikan maximum dua orang cadangan tetapi hanya bolah melakukan pergantian pemain kali.
 Pemain yang mendapat kartu merah dapat diganti dengan ketentuan belum ada pergantian pemain sebelumnya.

8. Posisi pemain pada saat service
• Sebelum permainan dimulai, kedua regu harus berada dilapangan masing-masing dalam posisi siap bermain.
• Dalam melakukan sepak mula, salah satu kaki tekong berada dalam garis lingkaran service.
• Kedua apit kita melakukan servis harus berada pada seperempat lingkaran.
• Lawan atau regu penerima servis bebas bergerak didalam lapangan sendiri.

9. Official (petugas pertandingan)
Sutu pertandingan harus dipimpin technikal sebagai berikut :
• 2 orang Technical Delegotate
• 6 orang juri (dewan hakim)
• 1 orang Official Refree
• 2 orang wasit (wasit utama dan wasit dua)
• 6 orang penjaga garis samping dan belakang.

10. Pinalty (hukuman)
Pemain yang menggar peraturan ini akan dikenakan sangsi atau hukuman pernyataan dari wasit apabila :
•Memperlihatkan sikap tidak sopan kepada pemain atau penonton juga pada wasit atas keputusan yang diambil.
•Menghubungi wasit yang bertugas dengan keras mengenai suatu keputusan yang diambil.
•Meninggakan lapangan permainan tanpa permisi kepada wasit yang memimpin pertandingan.
•Memberikan bola kepada pihak lawan dengan menggunakan kaki atau melemparkannya dengan keras.
• Berkelakuan tidak sopan selama permainan.

11. Apabila hal tersebut dilanggar oleh seseorang pemain maka wasit menggunakan kartu sebagai berikut:
1.1. Kartu Kuning
Sebagai tanda peringatan seorang pemain yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib seperti yang diatas.
1.2. Kartu Merah
• Apabila pemain telah menerima kartu kuning pada pertandingan yang sama.
• Sikap kasar dan tidak sopan seperti memukul, menendang, meludah dan lain-lain.
• Menggunakan kata-kata kotor atau mencaci maki.

D. Rangka Dan Tungkai
1. Rangka
Rangka adalah seluruh tulang-tulang pada manusia yang terbentuk oleh ± 200 b uah tulang yang membentuk tubuh yang disebut rangka. Jadi rangka merupakan alat gerak pasif pada manusia. Kegunaan rangka pada manusi :
• Memberikan bentuk pada tubuh
• Melindungi alat-alat tubuh yang lunak atau vital seperti paru-paru, otak, alat percernaan dan lain-lain.
•Tempat melekatnya otot-otot dan urat.
•Untuk mengokohkan tubuh.

2. Tungkai
Tungkai merupakan tulang-tulang anggota gerak bawah, tulang tungkai terdiri dari beberapa tulang kering yaitu : tulang betis, tulang tempurung lutut, empat belas tulang pergelangan kaki (masing-masing 7 bauah), sepuluh tulang telapak kaki dan dua puluh delapan ruas jari kaki (masing-masing jari 3 ruas kecuali ibu jari kaki 2 ruas).

E. Ketetapan Sasaran Servis
Ketetapan sasaran berarti benar atau tepat pada yang diuji atau sasaran dan servis adalah suatu teknik penyajian bola pertama untuk mengawali suatu permainan sesudah wasit menyatakan pertandingan sudah dimulai, jadi yang dimaksud dengan ketetapan sasaran servis pada penelitian ini adalah sasaran servis yang dilakukan secara akurat atau benar terhadap sasaran yang telah dibuat. 

F. Gambar Lapangan Sepak Takraw
Gambar lapangan Sepaktakraw untuk tes servis
Keterangan :
A. : Lingkaran untuk melakukan sepak mula (servis) oleh tekong
B. : Lingkaran untuk apit kanan
C. : Lingkaran untuk apit kiri
D. : Kolom nilai ketepatan sasaran servis

Pada gambar di atas adalah proses evaluasi hasil tes siswa karena membutuhkan data yang akurat dan obyektif, dalam proses pembelajaran tes dan pengukuran merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan, tes merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data dari suatu objek yang akan teliti.

BAB III
PENUTUP

Sepak Takraw adalah kata Malaysia untuk menendang. Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan tangan awalnya digunakan dalam permainan Jadi permainan adalah menendang bola dasarnya. " Regu adalah Malaysia untuk "tim" empat orang, tiga starter dan satu pemain pengganti. 

Olah raga ini menjadi Takraw resmi dikenal sebagai. Takraw adalah kata Malaysia untuk kick dan Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan, karena itu Takraw secara harfiah berarti untuk menendang bola. Pemilihan nama ini untuk olahraga pada dasarnya merupakan kompromi antara Malaysia dan Thailand,dua negara raksasa olahraga.

Tuesday, October 22, 2013

Jinak Merpati!!!

Posted by fitrial izhaman On 11:49 PM | No comments

Burung merpati lokal telah lama dikenal masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Unggas ini berasal dari merpati liar (Columba livia) yang telah lama dibudidayakan dan asal penyebarannya dari daerah Eropa. bagian terbesar dari famili Columbidae adalah merpati dengan jumlah mencapai 302 spesies, dari yang berukuran kecil sampai medium dengan panjang badan berkisar 15 cm sampai 80 cm. Jumlah spesies pada famili Columbidae sebanyak 280 spesies.kebanyakan tetua merpati domestik yang ada, walaupun tidak semuanya adalah Rock Dove yang masih termasuk bangsa liar yang ada di pantai karang Eropa . Stern dan Dickinson menyatakan bahwa rock pigeon yang ada saat ini adalah populasi hasil seleksi, dan merupakan merpati tipe liar yang tetap mempertahankan variasi dari nenek moyangnya.

Merpati termasuk salah satu unggas domestik selain ayam, kalkun, bebek, angsa, ayam mutiara, burung unta, emu, ayam hutan dan lain-lainnya. Unggas domestik tersebut dipelihara dan dimanfaatkan daging, telur, bulu maupun tenaganya. Adapun unggas domestik penghasil daging seperti ayam, kalkun, bebek, angsa, ayam mutiara, merpati, burung unta, emu, ayam hutan, burung, dll.

Pola Perilaku Merpati
Pola perilaku merpati tidak sama dengan burung lain. Burung ini meskipun mau dipelihara di sangkar namun tidak mau bertelur di tempat yang sudah disediakan. Misalnya kita membeli jerami atau damen yang sudah jadi dan ditempatkan di dalam kandang merpati itu tidak mau bertelur di situ. Merpati ini lebih senang memilih kandangnya sendiri dan bertelur di sarang yang sudah mereka buat sendiri. Jika sudah waktunya bertelur biasanya mereka akan makan pasir dulu lalu mencari ranting atau batang kecil yang mampu mereka bawa untuk ditata di tempat yang agak gelap. Orang Jogja biasa menyebutnya dengan nama Gupon. Andaikan tidak ditempatkan di gupon dan dilepas secara bebas, merpati ini juga bisa dipelihara dalam kandang strimin kawat yang agak besar. Atau di kurungan bambu yang cukupluas dan leluasa untuk bergerak sehingga mereka mau membangun sarang sendiri dan bertelur di aatasnya.

Perilaku Reproduksi
1. Membuat sarang berdua
Ketika seekor merpati beranjak dewasa, ia mulai mencari pasangan lawan jenis. Seperti dilakukan oleh semua bangsa burung, jurus-jurus cinta dilakukan dengan berbagai cara untuk memikat calon pasangannya. Biasanya merpati jantan akan mengibas-ibaskan sayapnya, memamerkan keindahan bulu-bulunya, dan akan terus berusaha mendekat kemanapun si betina pergi.

Apabila cinta si jantan diterima, biasanya perilakunya akan semakin agresif, yakni dengan berusaha mencium si betina. Cara berciuman mereka agak mirip dengan cara berciuman manusia, saling mematuk dengan patukan yang penuh kelembutan.

Berbeda dengan hewan-hewan lain, burung merpati kurang suka berganti-ganti pasangan. Apalagi berpoligami. Sekali pilih pasangan untuk seumur hidup, kecuali bila ada salah satu yang mati terlebih dahulu. Atau dipisah kandang oleh si empunya, bila itu merpati piaraan.

Setelah menemukan pasangan yang saling suka, biasanya mereka akan segera membuat sarang. Aktivitas membuat sarang dilakukan dengan merajut lembar demi lembar rumput-rumput kering. Sarang dibuat di atas pohon yang rimbun untuk menghindari tetesan air hujan dan terik sinar matahari. Uniknya, jika pada burung lain, aktivitas membuat sarang biasanya dilakukan oleh si jantan saja, pada merpati, sang betina pun ikut repot membantu.Nah, apabila sarang yang ideal sudah siap huni, berarti saatnya untuk melangsungkan perkawinan.

2. Masa-masa bulan madu
Masa-masa terindah dalam kehidupan sepasang merpati adalah masa-masa bulan madu. Mereka bersuka ria sepanjang hari dan beberapa kali melakukan aktivitas seksual, sebelum akhirnya si betina memasuki masa bertelur.

Berbeda dengan bangsa burung lain, ayam misalnya, yang bertelur dalam jumlah banyak yakni 6-10 butir dalam sekali masa produksi, jumlah telur yang dihasilkan merpati betina hanya sedikit, yakni dua butir saja. Pada kondisi tertentu terkadang bertelur tiga butir.

Mengapa jumlah telur yang dihasilkan cuma dua butir? Ini sebuah pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Nanti kita akan tahu, bahwa dihasilkannya hanya dua telur dalam satu masa produksi ternyata merupakan strategi yang sengaja dilakukan oleh merpati. Hal ini mengingat keterbatasan kemampuan mereka dalam menghadapi banyaknya hambatan saat merawat dan membesarkan anak-anak.

Pasangan merpati itu seperti sangat menyadari, setelah masa-masa indah berlalu, di depan sudah menunggu masa-masa sulit, bahkan masa paling sulit dalam kehidupan pertama mereka sebagai calon induk. Masa yang penuh pengorbanan dan perjuangan untuk dapat mempertahankan hidup dan garis keturunannya.

Beban kehidupan yang berat dimulai ketika pasangan merpati memasuki masa pengeraman. Telur-telur merpati yang hanya dua butir itu harus dapat menetas semuanya, mengingat mereka tidak memiliki cadangan telur lagi. Telur merpati harus mendapatkan panas yang cukup dan dengan suhu yang stabil. Untuk itu biasanya aktivitas pengeraman dilakukan oleh kedua pasangan secara bergantian. Berbeda dengan burung lain yang aktivitas mengeram hanya dilakukan oleh si betina saja.

Mereka membagi dua shift dalam sehari, sehingga masing-masing mendapatkan bagian mengeram selama 12 jam. Untuk mencukupi kebutuhan energi selama berpuasa, merpati memanfaatkan lemak yang ada dalam tubuhnya. Aktivitas makan baru bisa dilakukan ketika merpati memasuki jam bebas mengeram, sekaligus dimanfaatkan untuk istirahat dan memulihkan energi.
Tampaknya kegiatan mengeram ini merupakan beban yang cukup berat bagi keduanya. Berat badan mereka biasanya akan turun secara drastis, berpuasa selama mengeram benar-benar menguras cadangan lemaknya. Walaupun demikian kedua merpati terlihat seperti tambah gemuk, karena menjelang pengeraman bulu-bulunya akan tumbuh sangat lebat. Aktivitas mengeram biasanya akan berlangsung selama 20 hari.

3. Dua anak cukup
Dalam sekali masa mengeram, merpati hanya akan menetaskan dua telur saja. Jadi, seandainya mereka memiliki tiga telur, maka satu telur akan gagal menetas. Setelah telur menetas, pekerjaan belum usai, karena sesungguhnya kesulitan hidup baru saja dimulai.

Burung merpati merupakan jenis burung artifisial, yakni jenis burung yang merawat anaknya setelah menetas, sebelum mereka mampu mencari makan sendiri. Agar anak-anak merpati yang baru menetas dapat bertahan hidup kedua induknya harus menyuapinya dengan jenis makanan yang halus.

Anak-anak merpati yang baru menetas belum dapat mencerna makanan berupa biji-bijian. Makanan yang diberikan berupa makanan cair yang berwarna putih kekuning-kuningan, yang dikeluarkan dari paruh induknya. Para ilmuan zoologi memberi nama makanan tersebut, susu merpati.

Umumnya, susu hanya dihasilkan oleh bangsa mammalia saja, tetapi ternyata anak-anak merpati ini minum susu juga. Sebagaimana susu mammalia, susu merpati juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Selain kaya protein susu merpati juga terbukti lebih efektif dibanding susu mamalia. Anak dari hewan mamalia butuh waktu 10 hari untuk mencapai kenaikan dua kali berat badan, sedangkan anak merpati cukup membutuhkan waktu 2-3 hari saja untuk melipatduakan berat-badannya.

Dari mana susu ini keluar, padahal kita tahu bahwa bangsa burung tidak memiliki kelenjar mammae atau kelenjar susu? Ternyata, kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar susu merpati adalah organ tembolok. Dalam kondisi normal tembolok berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Fungsi ini beralih ketika merpati memasuki masa mengeram dan menyusui. Itulah sebabnya mengapa merpati puasa saat mengeram, karena perubahan fungsi tembolok sudah dimulai pada saat itu. Hal ini sekaligus menjadi penjelasan, kenapa pasangan merpati tidak dapat menyimpan cadangan makanan dalam temboloknya selama masa mengeram, sehingga mengakibatkan penurunan berat badan yang cukup drastis.

Proses pembentukan susu merpati, dimulai sesaat setelah mata merpati melihat ada telor di dalam sarang. Selanjutnya informasi tersebut langsung dikirim ke otak. Informasi diolah di otak, kemudian otak merespon dengan memerintahkan tubuh untuk mensekresi hormon prolaktin dalam darah. Hal ini telah diperkuat dengan suatu uji coba mempergunakan buatan. Kandungan prolaktin dalam darah ternyata dapat ditemukan pada merpati yang tidak sedang bertelur ketika diletakkan benda mirip telur dalam sarangnya.

Hormon prolaktin inilah yang selanjutnya bertanggung jawab terhadap pembentukan susu merpati. Tahap pembentukan susu merpati dalam tembolok dimulai dengan adanya penebalan lapisan-lapisan pembentuk dinding tembolok. Tembolok yang berfungsi menyimpan cadangan makanan bagian dalamnya berbentuk kantong atau lumen. Penebalan lapisan dinding tembolok menyebabkan kantong atau lumen tembolok menjadi semakin sempit. Ketebalan akan semakin tinggi dan mencapai ketebalan maksimal menjelang telur-telur merpat menetas.

4. Bapak pun menyusui
Hakikat susu merpati sesungguhnya adalah hasil peluruhan lapisan paling atas dari beberapa lapisan penyusun dinding tembolok yang mengalami penebalan. Lapisan yang meluruh tersebut berubah menjadi cairan yang terkumpul dalam rongga tembolok dan siap untuk disuapkan pada anak merpati yang baru menetas. Selain dengan cara disuapkan, terkadang anak-anak merpati yang kelaparan mengambil sendiri susu merpati dari paruh induknya.

Pembentukan susu merpati ini tidak hanya terjadi pada merpati betina saja, melainkan juga terjadi pada merpati jantan, sehingga pekerjaan menyusui ini tidak hanya dilakukan oleh merpati betina saja, melainkan juga oleh merpati jantan secara bergantian. Pemberian susu merpati ini dilakukan selama hampir sebulan.

Setelah seluruh lapisan paling atas dari dinding tembolok habis diluruhkan, luas rongga tembolok hampir berangsur-angsur kembali seperti semula. Selanjutnya fungsi tembolok kembali lagi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan.

Sedangkan secara hormonal perubahan kandungan estrogen dalam darah yang semula meningkat juga mulai menurun, demikian pula dengan kadar prolaktin dalam darah akan menurun pula. Pada masa-masa tersebut anak-anak merpati biasanya sudah mampu mandiri, makan sendiri makanan berupa biji-bijian.

Dari sini kita dapat melihat bahwa dalam kehidupan yang semakin berat dan penuh persaingan, pasangan merpati mampu bertahan hidup dengan cara kerjasama dalam membagi beban. Seberat apapun merawat dan membesarkan anak, akan terasa ringan bila dikerjakan secara bersama-sama. Pekerjaan mengeram dan menyusui yang dilakukan oleh merpati jantan, ternyata tidak membuat harga diri si jantan jatuh, melainkan justru menjadikannya suri tauladan bagi pria sejati.

Wednesday, October 9, 2013

apakah itu Penilaian Autentik?

Posted by fitrial izhaman On 10:53 PM | No comments

Penilaian (performance) adalah penafsiran hasil kerja dan penentuan pencapaian penilaian hasil belajar sedangkan Autentik adalah yang sebenarnya atau kehidupan nyata. Jadi,  Penilaian autentik adalah penilaian yang secara langsung mengukur hasil kerja (kinerja) aktual (nyata) siswa dalam hal-hal tertentu. Penilaian autentik juga dikenal dengan istilah penilaian “hasil kerja”, “approprite”, “alternative” atau “direct”. (www.dsea.org).
Pada pengertian lain, penilaian autentik merupakan penilaian yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan ketrampilan itu pada kehidupan nyata. Penilaian autentik mendorong siswa dan merupakan refleksi kegiatan pengajaran yang baik. (www.cep.cl.k12.md.us:2000).  Sedang pada pengertian autentik sebagai bagian dari penilaian hasil kerja, autentik berarti realistis atau berhubungan dengan aplikasi pada kehidupan nyata. (Ott, 1994:6).

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan penilaian autentik merupakan bagian dari penilaian hasil kerja (alternatif) yang berusaha mengukur atau menunjukkan pengetahuan dan ketrampilan siswa dengan cara menerapkan pengetahuan dan ketrampilan itu pada kehidupan nyata. Sedang penilaian hasil kerja merupakan kegiatan penilaian yang meminta siswa untuk mengkonstruk respon, menghasilkan produk atau menunjukkan hasil suatu kegiatan (demonstrasi). Penilaian hasil kerja umumnya tidak meminta jawaban benar atau salah saja, tetapi juga tentang apa yang diketahui dan apa yang akan dilakukan siswa. Penilaian ini sangat sesuai untuk mengetahui ketercapaian tujuan proses dalam pembelajaran.

Dalam evaluasinya penilaian hasil kerja didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria merupakan petunjuk, aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang digunakan untuk menilai atau mengambil keputusan terhadap respon, hasil-hasil tes atau hasil kerja (kinerja) siswa.

Penilaian autentik dengan berbagai macam strategi penilaian yang valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari siswa. Strategi-strategi ini dapat berupa penilaian atas proyek atau kegiatan siswa, penggunaan portfolio, jurnal, rubrik, ceklist dan petunjuk observasi di samping memberikan kesempatan pada siswa ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri dan penggunaan tiap-tiap penilaian untuk memperbaiki ketrampilan menulis mereka. (University of Washington, 2001). Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang rubrik penilaian.

Rubrik
Rubrik adalah pedoman penskoran. Rubrik digunakan untuk menilai hasil kerja siswa secara keseluruhan dengan mencocokkan hasil kerja siswa dengan kriteria yang tepat. Ada dua komponen di dalam rubrik, yaitu: kriteria dan level hasil kerja siswa. Setiap rubrik paling sedikit memiliki dua kriteria dan dua level hasil kerja.

Jenis – jenis Rubrik
Menurut puji (2004:13), rubrik terbagi kepada dua yaitu:
a.      Rubrik analitik
Rubrik analitik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan. Dengan menggunakan rubrik analitik dapat dianalisa kelemahan dan kelebihan seorang siswa terletak pada kriteria yang mana.
Contoh rubrik analitik
Kriteria
Skala
1
2
3
4
Pendekatan pemecahan masalah
Tidak terorganisir, tidak sistematis
Ada usaha untuk mengorganisir, tetapi tidak dilakukan dengan baik
Terorganisir, diikuti dengan penyelesaian yang benar
Sangat teroganisir dan sistematis dengan perencanaan yang baik
Ketepatan perhitungan
Banyak kesalahan perhitungan, mengakibatkan hasil yang salah
Beberapa perhitungan masih salah, megakibatkan ada hasil yang salah
Hanya sedikit kesalahan dalam perhitungan, penerapan rumus sudah benar
Tidak ada kesalahan perhitungan, perhitungan rumus benar
Penjelasan prosedur
Tidak jelas dan sukar diikuti
Agak jelas tetapi menunjukkan kurang memahami masalah
Jelas dan menunjukkan memahami masalah
Jelas dan menunjukkan memahami masalah serta tersusun dengan baik penjelasan hubungan antar sasaran jawaban

b.      Rubrik Holistik
Rubrik holistik adalah pedoman untuk menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi semua kriteria. Untuk rubrik ini, salah satu contoh penyebutan yang digunakan adalah tingkat 1 (tidak memuaskan), tingkat 2 (cukup memuaskan dengan banyak kekurangan), tingkat 3 (memuaskan dengan sedikit kekurangan), dan tingkat 4 (superior) atau tingkat 0, tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3 (masing-masing dengan sebutan yang sama).
Contoh rubrik holistik
Tingkat (level)
Kriteria Umum
4 (Superior)
·   Menunjukkan pemahaman yang lebih terhadap konsep-konsep
·   Menggunakan strategi-strategi yang sesuai
·   Komputasi (perhitungan) benar
·   Penjelasan patut di contoh
·   Diagram/tabel/grafik tepat (sesuai dengan permintaan)
·   Melebihi pemecahan masalah yang diinginkan
3 (memuaskan dengan sedikit kekurangan)
·   Menunjukkan pemahaman terhadap konsep-konsep
·   Menggunakan strategi-strategi yang sesuai
·   Komputasi (perhitungan) sebagian besar benar
·   Penjelasan efektif
·   Diagram/tabel/grafik sebagian besar tepat (sesuai dengan permintaan)
·   Memenuhi semua pemecahan masalah yang diinginkan
2 (cukup memuaskan dengan banyak kekurangan)
·   Menunjukkan pemahaman terhadap sebagian besar konsep-konsep
·   Tidak menggunakan strategi-strategi yang sesuai
·   Komputasi (perhitungan) sebagian besar benar
·   Penjelasan memuaskan
·   Diagram/tabel/grafik sebagian besar tepat (sesuai dengan permintaan)
·   Memenuhi sebagian besar pemecahan masalah yang diinginkan
1 (tidak memuaskan)
·   Menunjukkan sedikit atau tidak ada pemahaman terhadap konsep-konsep
·   Tidak menggunakan strategi yang sesuai
·   Komputasi (perhitungan) tidak benar
·   Penjelasan tidak memuaskan
·   Diagram/tabel/grafik tidak tepat (sesuai dengan permintaan)
·   Tidak Memenuhi pemecahan masalah yang diinginkan

Rubrik yang saya gunakan adalah rubrik analitik yang sedikit berbeda dengan contoh di atas, yakni dengan sedikit perubahan atau tambahan yang saya rasa cocok dengan soal yang saya berikan. Berikut ini adalah contoh soal dan contoh rubrik yang telah saya susun sesuai dengan soal serta kebutuhan penilaian hasil kerja siswa.

Mata pelajaran          : Matematika
Kelas                           : VIII
Kompetensi Dasar     :  Menyelesaikan model matematika dari masalah yang
                                       berkaitan dengan sistem persamaan linear dua  
                                       variabel dan penafsirannya.
Indikator                    : Siswa dapat menyelesaikan model matematika dari  
                                      masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan
                                      linear dua variabel.
Materi Pokok             : SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)

Soal :
Jika pembilang dari suatu pecahan di tambah 2, dan penyebutnya ditambah 1 akan diperoleh hasil bagi sama dengan 0,5. Jika pembilang ditambah 1 dan penyebutnya dikurangi 2 diperoleh hasil bagi sama dengan 0,6. Pecahan tersebut adalah. . .
Jawaban :
Misalkan : Pembilang = a
                  Penyebut   = b
Maka            2a + 4 = b +1               2a – b = - 3 . . . . persamaan 1
                     5a + 5 = 3b - 6               5a – 3b = - 11 . . . . persamaan 2
Dari pers. 1 dan 2, diperoleh
2a – b = - 3         3      6a – 3b = - 9
5a – 3b = - 11     1      5a – 3b = - 11
                                     a         = 2
Subtitusi a = 2 ke persamaan 1, diperoleh
2a – b = -3
2 (2) – b = - 3
4 – b = - 3
b = 7
Jadi pecahan tersebut adalah  =  




Rubrik penilaian
No
Indikator
Bobot
4
3
2
1
Skor Maks
1






2






3





4
Kelengkapan langkah
a.       Apa yang diketahui
b.      Apa yang ditanyakan
c.       Membuat Model Matematika
d.      Perhitungan
e.       Kesimpulan

Kebenaran Jawaban
a.       Apa yang diketahui
b.      Apa yang ditanyakan
c.       Membuat Model Matematika
d.      Perhitungan
e.       Kesimpulan

Pemahaman Konsep Matematika
a.       Penjumlahan
b.      Pengurangan
c.       Perkalian
d.      Pembagian

Kerapian/Kebersihan
4






5






2





1
Lengkap






Benar Semua





Benar Semua




Rapi/Bersih
3-4 Langkah





3-4 Langkah





2-3 Langkah




Kurang Rapi/Bersih
1-2 Langkah





1-2 Langkah





1 Benar





Tidak Rapi/Bersih
0 Langkah





0 Langkah





0 Benar





-
16






20






8





4

Skor Maksimal





48

Total Skor :
DAFTAR PUSTAKA

Authentic Pupil Assessment, http://www.dsea.org. download 09/10/01
Glossary of Assessment Terms, Maryland Assessment Consortium,
http://www.cep.cl.k12.md.us:2000. download 09/10/01
Iryanti, Puji. 2004. Penilaian Unjuk Kerja. Yogyakarta : Depdiknas
Ott, Jack. 1994. Alternative Assessment In Mathematics Classroom. New York:
Glencoe/McGraw-Hill

University of Washington, Colege of Education. 2001. Trainig for Indonesian

Educational team In Contextual Teaching and Learning. Seatle, Washington, USA.

Kalender

Follow Meyzza Blog

Iklan

PPC Iklan Blogger Indonesia

Statistik